Membaca Geopolitik Dunia Terkini Dalam Perspektif Islam

Lamongan.medianusantara.online

Oleh : Muhammad Wahid,S Pd.I ,M.Pd
Ketua Umum DPP LSM ASLI

Memahami Dinamika Kekuasaan, Konflik, dan Masa Depan Umat

Kita hidup di era di mana perubahan terjadi begitu cepat dan dramatis. Peta politik global atau yang kita kenal sebagai geopolitik sedang mengalami pergeseran yang signifikan. Persaingan kekuatan besar, konflik bersenjata di berbagai belahan dunia, ketegangan blok ekonomi, hingga perang wacana dan informasi, semuanya menjadi pemandangan sehari-hari yang kita saksikan melalui layar kaca dan media sosial.

Situasi ini seringkali menimbulkan pertanyaan besar di benak kita: Ke arah mana dunia ini berjalan? Mengapa ketidakadilan seolah menjadi hal yang lumrah? Bagaimana seharusnya seorang muslim memandang realitas ini? Apakah kita hanya menjadi penonton pasif, atau memiliki peran dan sikap yang harus diambil?

Islam sebagai Ad-Deen atau cara hidup, tidak pernah meninggalkan umatnya dalam kebingungan. Al-Qur’an dan Sunnah memberikan kerangka berpikir yang komprehensif, filosofi yang mendalam, dan panduan etis untuk memahami setiap fenomena alam dan sosial, termasuk dinamika geopolitik dunia.

1. Konsep Dasar: Segala Sesuatu Berdasarkan Sunnatullah

Perspektif Islam pertama kali mengajarkan kita bahwa tidak ada sesuatu yang terjadi di muka bumi ini kecuali atas izin dan ketetapan Allah SWT. Namun, Allah juga menciptakan hukum-hukum alam (sunnatullah) yang berlaku universal.

Dalam pandangan Islam, kekuasaan, wilayah, dan pengaruh bukanlah milik mutlak manusia atau negara. Semuanya adalah titipan dan pinjaman dari Allah Yang Maha Pemilik Kerajaan.

Allah berfirman dalam QS. Ali ‘Imran ayat 26:

Katakanlah: ‘Wahai Allah, pemilik kerajaan, Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau segala kebaikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'”

Ayat ini menjadi kunci utama dalam membaca geopolitik. Ketika kita melihat suatu negara bangkit menjadi adidaya, atau negara lain runtuh dan terpecah belah, itu semua adalah bagian dari siklus sejarah yang diizinkan Allah. Sejarah membuktikan, peradaban besar seperti Romawi, Persia, dan Bani Umayyah pernah berdiri tegak, namun akhirnya runtuh juga.

Jadi, keyakinan ini menenangkan hati kita bahwa di balik keruwetan politik dunia, ada Penguasa Mutlak yang sedang mengatur skenario besar kehidupan manusia sesuai dengan keadilan dan hikmah-Nya. Tidak ada kekuatan di bumi yang bisa bertahan selamanya, dan tidak ada kelemahan yang abadi selama umatnya mau berubah.

2. Geopolitik sebagai Bentuk Ujian dan Taruhan Akhirat

Dinamika geopolitik dunia saat ini—mulai dari perebutan sumber daya alam, pengaruh ideologi, hingga konflik bersenjata—pada hakikatnya adalah sebuah ujian besar bagi manusia.

Allah berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 28:

Dan ketahuilah bahwa harta-hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan (ujian), dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Ujian ini tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi bangsa dan negara.

– Bagi negara yang kuat, ujiannya adalah apakah mereka akan menggunakan kekuasaannya untuk menzalimi atau untuk menegakkan keadilan?
– Bagi negara yang lemah, ujiannya adalah apakah mereka akan tetap berpegang pada prinsip kebenaran, atau justru menjual harga diri dan aqidah demi sekeping kenyamanan?

Dalam perspektif Islam, kemenangan atau kekalahan di medan politik dunia bukanlah tujuan akhir. Tujuan akhir seorang muslim adalah Falah (kesuksesan) di akhirat. Oleh karena itu, ketika kita melihat ketidakadilan terjadi di mana-mana, kita tidak boleh putus asa atau kehilangan arah. Kita meyakini bahwa meskipun kebenaran tampak terhimpit hari ini, pada akhirnya kebenaran akan menang, baik di dunia maupun di akhirat.

3. Sikap Islam Terhadap Konflik dan Keadilan

Salah satu isu terpanas dalam geopolitik terkini adalah konflik dan perang. Bagaimana Islam memandang posisi kita di tengah pertikaian antar bangsa?

Islam mengajarkan prinsip Keadilan (Al-‘Adl) sebagai landasan utama dalam memandang setiap konflik. Kita tidak boleh memihak hanya karena faktor suku, ras, atau kekuatan ekonomi. Kita wajib memihak kepada kebenaran.

Allah berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 8:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”

Prinsip ini memberikan kejelasan:

– Jika ada pihak yang dizalimi, di manapun mereka berada, Islam memerintahkan kita untuk membela mereka.
– Jika ada pihak yang menzalimi, meskipun itu saudara kita sendiri atau sesama muslim, kita wajib mengingkarinya.

Selain itu, Islam sangat melarang permusuhan tanpa alasan yang jelas dan menekankan pentingnya perdamaian (As-Salam). Perang dalam Islam hanya dibenarkan sebagai bentuk pembelaan diri atau untuk menghentikan kezaliman yang lebih besar, bukan untuk ekspansi kekuasaan atau keserakahan.

4. Strategi Umat Islam di Tengah Persaingan Global

Melihat realitas geopolitik yang keras, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjadi lemah, apatis, atau hanya pasrah tanpa usaha. Justru, Islam memberikan strategi jelas agar umat Islam bisa eksis, berdiri tegak, dan diperhitungkan di mata dunia.

a. Kewajiban Memiliki Kekuatan (Iddah)

Dalam dunia politik internasional, seringkali yang didengar suaranya adalah yang memiliki kekuatan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan umatnya untuk mempersiapkan kekuatan semaksimal mungkin.

Firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 60:

Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggup…”

Kekuatan di sini bukan hanya berarti persenjataan militer, melainkan juga kekuatan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, industri, dan yang paling utama adalah kekuatan persatuan. Jika umat Islam ingin didengar suaranya dalam isu-isu global, maka kita harus menjadi umat yang maju, cerdas, dan mandiri.

b. Menjaga Ukhuwah dan Menghindari Perpecahan

Musuh terbesar umat Islam dalam peta geopolitik bukanlah kekuatan luar semata, melainkan perpecahan dari dalam. Ketika kita sibuk bertikai sesama sendiri, maka kekuatan kita akan hilang dan kita mudah diadu domba oleh pihak luar.

Allah mengingatkan dalam QS. Al-Anfal ayat 46:

Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang…”

Oleh karena itu, menyatukan barisan, menjaga silaturahmi antar ulama, dan menghindari fanatismé golongan yang berlebihan adalah keniscayaan jika kita ingin bangkit.

c. Diplomasi dan Kerjasama yang Bijak

Islam mengajarkan etika berhubungan dengan pihak lain. Kita boleh bekerjasama dengan siapapun selama tidak melanggar prinsip agama dan tidak merugikan kepentingan umat. Rasulullah SAW pun membuat perjanjian dan piagam politik dengan berbagai pihak untuk menjaga kedamaian dan keamanan.

Penutup: Optimisme dan Harapan

Membaca geopolitik dunia terkini melalui kacamata Islam memberikan kita dua hal sekaligus: Kedewasaan berpikir dan Ketenangan hati.

Kita menyadari bahwa dunia ini memang tempat persaingan dan pertarungan. Namun, kita juga yakin bahwa kemenangan sejati bukan milik mereka yang memiliki senjata paling canggih atau wilayah paling luas, melainkan milik mereka yang bertakwa, berlaku adil, dan berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran.

Tantangan zaman mungkin berat, konflik mungkin masih akan terus terjadi, namun janji Allah pasti benar. Bahwa Islam akan tetap tegak, dan cahaya kebenaran tidak akan bisa dipadamkan oleh kegelapan kebodohan dan kezaliman.

Mari kita jadikan pemahaman ini sebagai bahan introspeksi. Mari kita perbaiki diri, perkuat ilmu, satukan hati, dan bekerja keras untuk menjadi umat yang tidak hanya menjadi objek sejarah, tetapi menjadi subjek yang menentukan peradaban dunia menuju kebaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

CW

Berita Terkait