
Kediri // medianusantara.online – Hak untuk turun ke jalan dan menyatakan dukungan moral kepada aparat kepolisian memang dilindungi konstitusi. Itu sah. Tapi di ruang publik yang sama, publik berhak bertanya : Kemana semangat pembelaan itu ketika yang berdiri di barisan depan adalah warga kecil yang menuntut keadilan…?
Jika penghinaan terhadap institusi dianggap melukai marwah, maka luka yang sama harus dirasakan ketika warga menghadapi lambannya laporan, ketidakpastian hukum, dan dugaan tebang pilih. Marwah institusi tidak akan runtuh karena kritik. Marwah justru runtuh ketika kritik dibungkam dan keluhan rakyat diabaikan.
1. Demokrasi Bukan Alat Legitimasi Kekuasaan
Demokrasi bukan panggung untuk membela penguasa. Demokrasi adalah ruang uji. Di situ rakyat berhak bersuara keras, menyanggah, bahkan menggugat — selama koridor hukum tidak dilanggar. Ketika aparat lebih cepat mendapat barisan pembela dibanding warga yang bertahun – tahun menunggu kepastian hukum, maka yang terjadi bukan demokrasi, tapi kultus kekuasaan.
2. Negara Kuat Bukan Negara Yang Mudah Tersinggung
Kalimat “Negara Tidak Boleh Kalah Oleh segelintir Orang” hanya punya makna jika negara menang lewat fakta, bukti, dan proses yang bersih. Negara yang kuat tidak alergi kritik. Negara yang kuat menjawab kritik dengan transparansi, data terbuka, dan penegakan hukum tanpa pandang bulu. Mudah tersinggung tapi lambat menyelesaikan perkara rakyat adalah tanda lemah, bukan kuat.
3. Hormat Lahir Dari Kinerja, Bukan Dari Pembungkaman
Publik tidak anti – aparat. Publik mendukung aparat yang bekerja profesional, bersih, dan berpihak pada hukum. Tapi hormat itu tidak diminta lewat ancaman atau mobilisasi massa. Hormat lahir ketika kinerja bisa dipertanggungjawabkan, ketika kasus kecil dan besar diperlakukan sama, ketika tidak ada “Anak Emas Hukum”.
Ujungnya Sederhana :
Jika ada dugaan pelanggaran hukum, buktikan lewat proses yang objektif, bukan lewat adu massa atau solidaritas kelompok. Hukum harus berdiri di atas semua kepentingan — baik kepentingan seragam maupun kepentingan rakyat jelata.
Yang dibutuhkan hari ini bukan pamer kekuatan di jalanan. Yang dibutuhkan adalah pembuktian jujur, terbuka, dan bisa diuji publik. Karena kepercayaan pada penegakan hukum tidak dibangun oleh teriakan, tapi oleh konsistensi. Bersambung…
TEAM REDAKSI
