PARARUPA: DIBAWAH GELARAN RANDU KUNING

Bantul // medianusantara.online – Di tengah derasnya arus modernitas yang terus melaju, masih ada ruang-ruang budaya mengekspresikan karya seni: Patung, Instalasi, Performance Art dan Environment Art dengan kurator Taufik Rahzen dan Rain Rasidi di Joglo Randu Kuning, Jl. Ambarketawang RT. 08 Brajan Tamantirto Kasihan Bantul.
Yayat Surya selaku pelaksana kegiatan menjelaskan Pergelaran Joglo Randu Kuning kali ini mempersembahkan Pararupa: di bawah gelaran Randu Kuning. Pameran akan berlangsung mulai hari Sabtu tanggal 6 Juni s.d. Senin, 17 Agustus 2026.
Pada pembukaan pameran kurator Taufik Rahzen memaparkan bahwa pada tahun 1938-1942, Sukarno sekeluarga diasingkan ke Bengkulu setelah pambuangan di Ende Flores. Ditempat yang baru, beliau tetap menjalankan aktivitas berkesenian dengan mendirikan kelompok tonil Monte Carlo, ditengah bayangan perang dunia II. Pada saat itu, Direktur Benteng Marlborough meminta Bung Karno untuk membuat monumen saat, pembukaan radio 100.000 megawat radio Nazi yang dibuka di Montecarlo Monaco, Juli 1938, yang ditolaknya dengan halus. Namun, baru pada 6 Juni 1941, saat merayakan ultah ke 40, akhirnya Bung Karno menyerahkan model karya berupa tumpukan batu tiga buah yang disusun dengan telanjang dalam keseimbangan penuh, yang dijadikan sebagai simbol koalisi rentan dari Italia, Jepang, German. Karya yang disusun dibawah pohon randu di kawasan Fort Marlborough ini, menjadi monumen karya anak bangsa tentang respon terhadap situasi global saat itu. Model karya itu masih diabadikan di diorama Fort Marlborough Bengkulu.
Lebih nyatanya Taufik Rahzen didampingi Rain Rasidi dan Yayat Surya di Joglo Randu Kuning menyampaikan bahwa “Mengingat dan merayakan hal itu, kami ingin menjadikan peristiwa ini sebagai simbol pengkaryaan seni (terutama patung, instalasi, performance-art dan seni lingkungan) sekaligus menghormati kelahiran seniman Sukarno yang ke 125 (1901-2026). Acara ini dimeriahkan oleh pameran seniman patung, instalasi dan petmance art selama bulan Juni 2026 di Taman Joglo Randu Kuning Tamantirto Kasihan Bantul Yogjakarta. Diikuti oleh 125 seniman untuk 125 tahun Bung Karno 1901-2026.”
Pararupa: di bawah gelaran Randu Kuning.
Berangkat dari peristiwa pengasingan Sukarno di Bengkulu pada 1938–1942, pameran ini mengingat kembali praktik seni sebagai respon terhadap situasi zaman. Pada 6 Juni 1941, Bung Karno menghadirkan sebuah karya susunan batu di bawah pohon randu kawasan Fort Marlborough sebagai simbol rapuhnya koalisi global pada masa Perang Dunia II. Peristiwa itu menjadi penanda penting bagaimana seni dapat hadir sebagai sikap, pembacaan politik, sekaligus kesadaran kebudayaan.
Pararupa : di bawah gelaran Randu Kuning dihadirkan sebagai penghormatan atas 125 tahun kelahiran Sukarno (1901–2026), sekaligus ruang pertemuan seni patung, instalasi, performance art, dan seni lingkungan yang merefleksikan hubungan manusia, sejarah, tubuh, alam, dan masa depan Nusantara. Melibatkan para seniman: Agus Baqul Purnomo, Agung WHS, Ahmad Hendra, Aka Sanjaya, Ambar Pranasmara, Ambrosius Edi, Anusapati, Bambang Win, Berlian Avara L, Bina Novida, Buteng Swami, Destian A, Dipo Andy, Dunadi, Eddy Susanto, Endang Lestari, Galam Zulkifli, Garin Nugroho, Heri Dono, Jatti Adji, Khusna Hardiyanto, Koniherawati, MAD Ali Efendi, Melati Suryodarmo, Nanang Garuda, Nur Iswantara, Putri Wartawati, Sri Wahyuni, Tugiman Hadi, Utin Rini, Yayat Surya, Yulhendri, dan Yusman. Kurator; Taufik Rahzen dan Rain Rosidi (Rain).
Sebuah penghormatan setinggi-tingginya kepada seluruh inisiator, kurator, dan seniman yang terlibat dalam PARARUPA: DIBAWAH KIBARAN RANDU KUNING. Melalui pameran ini, kita tidak hanya diajak melihat ke belakang, tetapi juga merayakan sisi lain dari Sang Proklamator yang jarang tersorot: Sukarno sebagai seorang Seniman, ungkap Yayat Surya.
Pembukaan dimeriahkan dengan penyajian orchestra bunyi Nanang Garuda, monolog Mirkun Awali, penampilan gitar Mas Buteng, MC mbak Asmaria dan dihadiri ibu Yani Sapto Hudoyo serta tamu undangan lainnya. *
Penulis: Nur Iswantara