LAYAR KERTAS & KAYON Dua Buku Karya Dr. Edi Purwanto & Wasi Ismoyo Dibincang di Pendapa Randu Kuning

Bantul//Medianusantara.online. Dua buku dramaturgi seni pertunjukan merupakan rangkaian trilogi, tulisan Dr Edi Purwanto pada seri-1 ‘Layar Kertas’ dan seri- 2 ‘Kayon’ ditulis bersama Wasi Ismoyo. Satu lagi dalam persiapan sebagai trilogi. Buku tersebut sebagai wujud kecintaan pada produk budaya Jawa khususnya seni wayang, kethoprak, ludruk dan lainnya.

Kedua buku tersebut akan di perbincangkan di Pendapa Randu Kuning Brajan Tamantirto Kasihan Bantul. Pada hari Jum’at, 10 Juli 2026, pukul.14.00 sd. 17.00 WIB. Bersama Budayawan Taufik Rahzen dan Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum., Pengajar Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Dr. Edi Purwanto, di tahun 2024 merupakan salah satu dari 101 Rimbawan Terbaik Indonesia versi Perkumpulan Pensiunan Kehutanan Indonesia ( Penshutindo,). Buku ‘Layar Kertas’ tulisannya ini memotret drama hidup seorang bocah bernama Edi pada 12 tahun pertama.. Di umur belum genap 10 tahun, Edi sudah punya inisiatif membangun grup Ludruk dan Ketoprak Bocah di kotanya, Kediri. Menjadi pemimpin sekaligus pemainnya.

Buku Edi Purwanto menggambarkan keintiman sebuah keluarga Jawa, juga sebuah petualangan seni panggung dan budaya Jawa yang dicintainya. Merekam praktik kehidupan Jawa di masa lalu, juga sebuah penegasan betapa dalam menjalani kehidupan ini senang dan susah itu selalu datang silih berganti.

Kedua buku memuat nilai-nilai moral ajaran Jawa yang tersembunyi dalam serat, petuah, dongeng, tembang dolanan, tembang Jawa, maupun epos pewayangan, yang memberi sentuhan dan kesadaran akan makna sebuah kehidupan. Terlepas dari hal itu, buku ini dapat diharapkan memikat bagu pembaca. Judul ‘Layar Kertas: Dunia Pertunjukan Bocah dan Dramaturgi dari Kediri (1962-1974)’, juga terbit dalam bahasa Inggris dengan judul :'<I> Paper Screen: The World Boy Show and Dramaturgy from Kediri (1962-1974)<P>.

Buku seri-2 berjudul ‘Kayon’, ditulis bersama Wasi Ismoyo. Novel dramaturgis ini menceritakan kisah liku-liku perjalanan Edi menempuh jenjang tertinggi dalam hirarki seniman Jawa yakni sebagai seorang Dalang. Kisah dimulai saat Edi masuk sekolah menengah pertama (SMP) tahun 1975,. Perjalanannya menempuh pendidikan di SMP Edi melaluinya dengan penuh gejolak dan drama-drama menarik juga menggelikan, baik dari guru maupun teman-teman sekolahnya. Namun gejolak itu tidak menyurutkan niat Edi untuk tetap menggeluti dunia wayang di luar rutinitas sekolahnya. Dunia panggung baginya sakral dan penuh filosofi kehidupan.

Mengacu teori Bourdieu, perjalanan laku seni Edi yang terekam dalam buku ini seolah mengukuhkan teorinya. Edi memiliki modal (capital) menjadi seorang dalang karena semasa sekolah dasar Edi setidaknya sudah memiliki dasar bisa nembang. Modal ini ia peroleh selain karena berguru juga karena kebiasaannya (habitus) mendengarkan kaset- kaset pedalangan dari dalang terkenal saat itu seperti Ki Nartosabdo, dan kebiasaannya menonton kesenian panggung di masa SD. Dari habitus dan capital ini Edi memberanikan diri tampil (arena) meski masih dalam bentuk yang disebut dalam buku ini sebagai ‘Wayang Garingan’. Edi mengawali arena itu di ruang kelas di hadapan teman sekelas dan guru, sebelum akhirnya mendapatkan arena yang sebenarnya (layak) ketika mendalang di rumah Nono, teman sekelasnya. Dari pentas ini eksistensinya sebagai seorang dalang cilik pun mulai diakui.

Buku seri- 2 Kayon menceritakan usaha Edi meraih eksistensinya sebagai Dalang Cilik yang berarti lebih dekat kepada biografi. Meskipun begitu juga mengupas tentang kebudayaan, seni, dan tradisi lain selain tentang dunia pakeliran. Terkait telaah tembang dan suluk, falsafah Jawa, dan kisah-kisah dunia wayang.

Edi Purwanto pada pertengahan tahun 80-an, mengawali karir sebagai pendidik di Scool of Environtmental Conservation Management (SECM), 1987 – 1993 di Balai Latihan Kehutanan Bogor. Pasca SECM, bekerja sebagai widyaiswara dan peneliti hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS). Sejak tahun 2022, mulai bekerja di lembaga mitra pembangunan Pemerintah (Lembaga Swadaya Masyarakat/LSM), sebagai Program Manager Wildlife Conservation Society Indonesia Program (2002-2004), Direktur Operation Wallacea Trust/Operasi Wallacea Terpadu (OWT, 2004 – kini), Direktur Tropenbos Indonesia/TI (2014- kini). Telah aktif menulis di media sejak tahun 1990. tulisannya banyak menghiasai Majalah Kehutanan Indonesia, Duta Rimba, Harian KOMPAS dan Pikiran Rakyat. Buku ini merupakan karya ke 11-nya, setelah Deforestasi dan Perubahan Lingkungan Tata Air di Indonesia: Resiko, Implikasi dan Mitos (sebagai penulis pertama dengan Eko Warsito, BIGRAF Publishing, 2001); Mengurai Simpul Benang Kusut: Dinamika Masalah Sosial Dalam Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari di Kalimantan (Litbang Kehutanan Kalimantan, 2002); Misteri Keragaman Hayati Hutan Lambusango (sebagai penulis kedua dengan Henry Ali Singer, OWT, 2006); Nasionalisme Lingkungan: Pesan Konservasi dari Lambusango (OWT, Edisi 1-2006 dan Edisi 2-2012); An Anti-encroachment Strategy for the Tropical Rainforest Heritage of Sumatra: Towards New Paradigms (UNESCO and TBI- Indonesia, 2016); Managing Indonesia’s Remaining Forest: Compilation of Opinions in The Jakarta Post, 2014-2016 (TBI Indonesia, 2016); Tantangan Perhutanan Sosial dan Peran CSO (Tropenbos Indonesia/TI, 2017); Pembelajaran dari Hutan Lindung Sungai Wain (TI, 2017); Ragam Persoalan Tenurial di Kawasan Hutan Lindung dan Taman Hutan Raya (TI, 2020); Masyarakat, Hutan dan Negara: Setengah Abad Perhutanan Sosial di Indonesia (1970-2020) (sebagai penulis kedua dengan Hery Santoso, TI dan Interlude, 2021). Sejak tahun 2024, memimpin berbagai program konservasi seperti Konservasi Hutan Lambusango di Buton, Sulawesi Tenggara (2004-2008), Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Pengelolaan Sumber Daya Alam (PNPM-Hijau, 2007–2013) di Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sumatera Barat dan Bengkulu.
Dan saat ini memimpin penguatan tata-kelola sumberdaya alam, mencegah kebakaran hutan dan lahan di kawasan hidrologi gambut, memetakan areal preservasi, mengembangkan agroforestry dan pertanian dan usaha masyarakat ramah iklim. Pada tahun 2024 terpilih sebagai 101 Rimbawan Hebat versi Perkumpulan Pensiunan Kehutanan Indonesia (Penshutindo).

Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, SMPN 3 dan SMAN 3 di Kota Kediri, ia menyelesaikan pendidikan tingginya di Fakultas Kehutanan IPB (1981-1986), Master di International Institute for Aerospace Survey and Earth Sciences (ITC, Enschede, Belanda, 1987-1990), Ph.D di Faculty of Earth and Life Sciences, Vrije Universiteit Amsterdam/VUA (1994-1999).

Yayat Surya selaku Pelaksana Kegiatan di Rabdu Kuning mengatakan “dua buku tulisan Dr. Edi Purwanto ( buku 1) dan bersama Wasi Ismoyo (buku 2) akan dibahas oleh 2 pembicara, yakni Budayawan Taufik Rahzen dan Dr. Drs. Nur Iswantara, M.Hum. Dengan moderator Rini Intama dan pembawa acara Asmariah Supriyadi.
(Penulis : Nur Iswantara).