
Bantul// medianusantara.online.
Bertempat di Auditorium Teater FSP ISI Yogyakarta sebuah Penciptaan Karya Kreatif Inovatif berjudul “Suryaning Baskoro: Ahmad Dahlan sebagai Metafora Cahaya dalam Kehidupan Bangsa”. Akan pentaskan pada Sabtu, 20 Juni 2026, jam 19.00 -selesai.
Sebelum.pentas diadakan FGD di Kantor Dinas Kebudayaan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari unsur pemerintah, akademisi, tokoh budaya, hingga pelaku seni kethoprak.
Karya ini digagas oleh Warsana, S.Sn., M.Sn., dosen Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, yang juga merupakan penerima Program Pendanaan Indosiana Tahun 2026 untuk Kategori Penciptaan Karya Inovatif yang digagas Kementerian Kebudayan Republik Indonesia dan didanai oleh LPDP. Warsana, S.Sn., M.Sn. hadir sebagai pemateri utama dalam FGD tersebut serta memaparkan konsep penciptaan karya, didampingi oleh penulis naskah Susilo Nugroho yang dikenal luas sebagai Den Baguse Ngarso, sebagai salah satu maestro kethoprak di Daerah Istimewa Yogyakarta, menguraikan konstruksi dramatik dan pendekatan penulisan lakon.
Karya seni pertunjukan kethoprak ini menjadi ruang dialog strategis dalam merumuskan arah penciptaan karya kethoprak kreasi yang tidak hanya berakar pada tradisi, tetapi juga mampu merespons dinamika kebangsaan dan kebutuhan generasi masa kini. Karya Suryaning Baskoro mengangkat figur K.H. Ahmad Dahlan sebagai simbol pencerahan, yang direpresentasikan melalui metafora “cahaya” dalam perjalanan kehidupan bangsa.
Karya dengan pendekatan konseptual dan estetika dengan memadukan unsur dramaturgi, musik tradisional, ekspresi tubuh, tata cahaya, serta aspek seni pertunjukan lainnya. Pendekatan intersemiotik ini diharapkan mampu menyampaikan pesan secara simbolik dan emosional, sekaligus memperkaya pengalaman estetis penonton.
Keunikan karya ini terletak pada upayanya menjembatani warisan budaya lokal yaitu kethoprak sebagai teater rakyat Jawa dengan narasi nasional yang inspiratif. Nilai-nilai kejujuran, keberanian, keterbukaan, dan semangat pembaruan yang melekat pada sosok Ahmad Dahlan diolah menjadi struktur dramatik yang tidak hanya menghibur, tetapi juga edukatif dan reflektif.
Dari sisi penulisan naskah, Drs. Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso) menghadirkan perspektif “orang luar” dalam memaknai sosok Ahmad Dahlan secara lebih universal. Pendekatan ini memberi ruang tafsir yang luas, termasuk penggunaan medium musikal seperti biola sebagai simbol ekspresi tembang yang bersifat abstrak dan lintas budaya. Tema pendidikan dan keagamaan menjadi benang merah, dengan penekanan pada nilai dakwah yang inklusif, dialogis, serta mengedepankan harmoni sosial.
Hasil refleksi kreatif menghasilkan naskah setebal 21 halaman dengan durasi pementasan berkisar 40–60 menit. Karya ini dirancang sebagai ketoprak kreasi, yang tetap menjaga unsur tradisional seperti tembang dan struktur cerita, sekaligus membuka ruang inovasi artistik.
Penonton pertunjukan akan disuguhi pentingnya pemilihan pemeran (casting) yang tepat, penguatan unsur tembang dalam pertunjukan, visualisasi tokoh yang lebih kuat, serta kemungkinan pengembangan karya menjadi bentuk serial. Selain itu, muncul pula diskursus terkait pilihan instrumen biola dalam konteks estetika dan kultural kethoprak.
Jika Den Baguse Ngarso fokus naskah, Mas Warsana ungkap penggunaan biola merupakan bagian dari perspektif kreatif yang ingin menghadirkan ekspresi universal, tanpa meninggalkan esensi tembang sebagai ruh pertunjukan.
Nah tonton saja pertunjukannya. Bagaimana aspek visual, menguatkan nilai religius dan kultural akan menjadi bahan penyempurnaan dalam penyajian pertunjukan.
Semoga hasil dari karya ini tidak hanya berupa pertunjukan saja, tetapi juga dokumentasi video, naskah lakon, serta laporan proses kreatif yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran seni dan pendidikan karakter. Diharapkan karya ini memiliki potensi untuk didiseminasikan secara luas melalui komunitas, institusi pendidikan, maupun platform digital.
Melalui kolaborasi lintas sektor yang terbangun dalam karya ini, diharapkan ketoprak sebagai warisan budaya tak benda dapat terus hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman. Karya Seni Kethoprak Suryaning Baskoro diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam memperkuat identitas budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai kebangsaan melalui medium seni pertunjukan. Sebagai kontributor Ibu Dr. Eli Irawati, Dosen Jurusan Etnomusikologi, FSP, ISI Yogyakarta.
Pertunjukan kethoprak ini dengan penulis naskah dan sutradara Drs. Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarso), penata rias Rini Widyastuti, penata musik Warsana, S.Sn., M.Sn. (Warsana Kliwir). Pemain : Wisben Antoro, Drs. Susilo Nugroho, Rini Eidyastuti, Bagong Sutrusno, Bayu Nurseto, Fuazi Bertha Saputro, Andhi Setyawan, Subekti Wihardo, Totok Sudarto, Sshari, Ahmad Badawi. Penusik: Ari Sumasono, S.Sn., M.Sn., Anom Wibowo, S.Sn., Wibowo, S.Sn., Anon Wibowo, Maryono, Aswino. Selamat menonton. *
(Penulis : Nur Iswantara.)
